Pengrajin Rotan Butuh Modal Usaha - Linggau Pos | Jawa Pos Group
Berita Terbaru :
Home » » Pengrajin Rotan Butuh Modal Usaha

Pengrajin Rotan Butuh Modal Usaha

Diterbitkan Oleh Unknown pada Selasa, 28 Mei 2013 | 19.40

MUARA BELITI – Kerajinan rotan di Desa Pedang, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas turun drastis hingga 80 persen. Kondisi tersebut terjadi lantaran para pengrajin kesulitan memperoleh bahan baku dan terkendala modal.

Salah seorang pengrajin rotan di Desa Pedang, Soldin atau yang lebih akrab dengan sapaan Berok mengatakan, selama ini usahanya kembang kempis. Mereka sangat membutuhkan asupan modal segar untuk mengembangkan kerajinan rotan.

“Sudah satu bulan kami tidak menganyam rotan lagi, lantaran terkendala bahan baku,” kata Soldin kepada Linggau Pos, Senin, (28/5). Selain jarak yang begitu jauh untuk mendapatkan rotan, Soldin mengaku, kendala utama dalam mengembangkan usaha kerajinan rotan, yakni masalah modal.

“Selama ini kami hanya menggunakan modal seadanya, sehingga produk yang kami buat pun tidak banyak, dan hanya ada beberapa anyaman pesanan pelanggan,” ujarnya.

Diakuinya, puluhan tahun menekuni usaha rotan, yang telah ia rintis sejak tahun 1979 tidak sedikitpun ada bantuan dari pemerintah. Padahal sepasang suami istri ini tergolong ahli dalam menganyam rotan.

“Semuanya bisa. Tudung saji, keranjang bayi, tempat buah, rumah burung, tempat sampah, pot bunga, dan berbagai kreasi kerajinan rotan bisa saya buat,” terang Soldin.

Selain dapat membuat berbagai jenis anyaman rotan, Soldin dan Yana juga dapat memproduksi kerajinan rotan dalam jumlah banyak sekalipun. “Berapapun jumlahnya, dan apapun bentuknya saya bisa menyelesaikan. Hanya saya modal yang tidak ada,” jelasnya.

Soldin menerangkan, untuk memperoleh bahan baku/rotan ia harus membeli ke petani rotan di Sungai Niang. “Tempatnya lumayan jauh. Biasannya dari rumah saya naik angkutan umum, dengan membayar ongkos Rp 3.000. Belum lagi masuk ke dalamnya juga cukup jauh, sehingga harus naik ojek dengan ongkos Rp 15.000,” Soldin menyebutkan.

Untuk membawa rotan hingga sampai ke rumah, paling tidak, Soldin membutuhkan ongkos lebih dari Rp 70.000, karena ketika membawa barang bawaan yang banyak, ia harus membayar ongkos tambahan.

Dengan ongkos yang tidak murah, ditambah dengan harga rotan yang tinggi Soldin merasa sangat terjepit untuk mengembangkan usahanya. Untuk mendapatkan rotan di petani, biasanya Soldin membelinya dengan ukuran rumpangan seharga Rp 500.000.

Sangat disayangkan memang, industri rumahan yang cukup potensial untuk dikembangkan, ternyata hingga kini belum tersentuh oleh pemerintah. Padahal tidak jarang produk buatannya diikutsertakan dalam pameran. “Sudah tiga kali ikut pameran. Terakhir ketika ada kunjungan Gubernur Sumatera Selatan, produk kami kembali dipamerkan, tapi sama sekali kami tidak mendapat bantuan modal. Padahal kami sangat berharap, bisa dapat bantuan dan bisa mengembangkan usaha ini,” imbuh Soldin.

Kendati demikian, Soldin mengaku tidak selamanya akan berhenti produksi, ia akan tetap bertahan hingga bisa menyisihkan sedikit modal untuk membeli rotan.
“Sekarang fokus dengan karet dahulu, nanti kalau sudah ada modal sejumlah pesanan yang masih menunggu segera kami penuhi,” ungkapnya. (13)
Share this article :

0 komentar:

Tulis komentar anda

Tell us what you're thinking... !

Sedang Membaca

PEMBACA SETIA

 
Linggau Pos Jl. Jend. SudirmanNo. 89Kel. Batu Urip Taba
Kontak Person (0733) 322349
Copyright © 2013. Linggau Pos | Jawa Pos Group | Media Online Wong Sumatera
Hak Cipta MurahNian Oleh : Edi Design