Penuhi Permintaan Pasar, Pengrajin Cobek Tetap Produksi - Linggau Pos | Jawa Pos Group
Berita Terbaru :
Home » » Penuhi Permintaan Pasar, Pengrajin Cobek Tetap Produksi

Penuhi Permintaan Pasar, Pengrajin Cobek Tetap Produksi

Diterbitkan Oleh Unknown pada Rabu, 15 Mei 2013 | 19.37

Foto : Dwi Irmayanti/Linggau Pos
PENAMBANG BATU : Sebelum mengerjakan pemahatan batu, para pengrajin lemper atau cobek di Bukit Sulap terlebih dahulu menyiapkan bahan baku (batu), yang diperoleh dengan cara menambang batu di sekitar lereng Bukit. Foto diabadikan belum lama ini.


ULAK SURUNG - Kendati penambangan batu di Bukit sulap ilegal (tanpa izin), namun hingga kini sejumlah pengrajin yang telah puluhan tahun menjadikan industri kerajinan cobek sebagai mata pencaharian, tetap memproduksi. Pasalnya, selain karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga untuk memenuhi permintaan pasar.

“Lember batu bukit cogong ini sudah dikenal luas oleh masyarakat Lubuklinggau, bahkan sampai ke luar kota sejak puluhan tahun silam. Seperti Palembang, Sorolangun, Lahat, Empat Lawang, dan sekitarnya jadi ketika dahulu sempat dilarang oleh pemerintah, banyak pedagang perantara yang kecewa, karena konsumen baik dari dalam kota maupun luar kota banyak yang mencari kebutuhan alat dapur ini ” kata Suparman (37).

Sehingga menurutnya, kalau produksi mereka dihentikan, tidak hanya para pengrajin yang kecewa, lantaran tidak bisa mendapat penghasilan. Namun sejumlah pedagang dan pelanggan pun kecewa, karena lemper batu bukit sulap dinilai memiliki kualitas yang lebih bagus dibanding dengan lemper batu lain.

“Secara kasat mata, batu yang berkualitas warnanya hitam. Dan karena lemper ini sifatnya untuk alat penghalus, yang dipilih batu yang memiliki tingkat kekerasan paling keras,” terang Suparman.

Diakuinya semakin keras tingkat kekerasan batu, maka semakin mahal pula harga yang dibandrol. Namun, aku Suparman harga lemper yang dipatok oleh para pengrajin lemper di Bukit Sulap rata-rata mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 200.000. “Harga bervariasi, tergantung dengan ukuran lemper, untuk lemper ukuran kecil biasanya kami bandrol Rp 15.000 dan untuk ukuran yang lebih besar Rp 25.000, dan ukuran yang paling besar bisa mencapai Rp 200.000” jelasnya.

Suparman menjelaskan, meskipun harga jual lemper relatif murah, namun penghasilan yang ia peroleh dari hasil pahatan batu tersebut, setidaknya dapat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, guna biaya sekolah anak, dan untuk keperluan lainnya.

“Tidak bisa memastikan berapa hasil yang kami dapat perbulan, karena pendapatan tidak menentu, yang pasti cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ucap Man.

Dalam sehari, rata-rata para pengrajin dapat menyelesaikan sekitar tujuh lemper siap pakai. Kemudian hasil pahatannya tersebut, dijual ke pasar. Namun tidak sedikit pula pedagang perantara yang membeli langsung ke para pengrajin, dengan harga lebih murah Rp 5.000 dari diantar ke pasar.

“Meskipun hasil para pengrajin hanya memproduksi dengan skala kecil, namun hingga sampai saat ini dapat memenuhi kebutuhan pasar,” jelas Man.

Diceritakannya, Sejak puluhan tahun silam Kelurahan Ulak Surung, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, telah tumbuh menjadi kampung sentra kerajinan lemper atau cobek batu. Saat ini, sedikitnya ada 40 warga menekuni pembuatan lemper batu. Dan , kecakapan para pengrajin dalam membuat lemper, merupakan warisan turun-temurun.

Begitu juga dirinya. Ayah dua orang anak ini mendapatkan keterampilan membuat lemper dari orang tuanya. Sedangkan orang tuanya, dulu dari neneknya.

“Sejak belum berumah tangga, saya sudah membuat lemper. Bahkan sejak masih duduk di bangku SMP saya sudah sering membantu ayah membuat lemper” ujarnya.

Pria yang lebih akrab dengan sapaan Man ini mengatakan, seluruh pengrajin lemper yang setiap hari menambang bongkahan batu dan memahatnya di lereng-lereng Bukit, merupakan penduduk sekitar kaki Bukit Sulap. Dan Sebagian besar dari mereka menjadikan pekerjaan tersebut, sebagai pekerjaan utama.

Begitu juga dengan dirinya, sejak puluhan tahun ia telah menggantungkan hidupnya dari hasil pahatan batu.

“Sebelumnya pernah menjadi Satuan Polisi Pamong Pamong Praja (Sat Pol-PP), tapi karena gaji yang didapat tidak sesuai dengan yang dikerjakan dan yang pasti karena tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga, akhirnya saya kembali menekuni pekerjaan ini lagi,” terang Man. (13)
Share this article :

0 komentar:

Tulis komentar anda

Tell us what you're thinking... !

Sedang Membaca

PEMBACA SETIA

 
Linggau Pos Jl. Jend. SudirmanNo. 89Kel. Batu Urip Taba
Kontak Person (0733) 322349
Copyright © 2013. Linggau Pos | Jawa Pos Group | Media Online Wong Sumatera
Hak Cipta MurahNian Oleh : Edi Design