Harga Cabai ‘Melangit’, Ukuran Tempe Mengecil
Diterbitkan Oleh Tribun Linggau pada Rabu, 19 November 2014 | 04.48
PASAR SATELIT – Kenaikan harga premium bersubsidi menjadi Rp 8.500 dan solar Rp 7.500, memang baru berlaku satu hari, Selasa (18/11). Namun dampaknya sudah terasa bagi konsumen yang berbelanja kemarin sore di Pasar Bukit Sulap (PBS) Kota Lubuklinggau. Para pedagang spontan telah menaikkan harga.
Pantauan Linggau Pos, sejumlah pedagang sayur rerata menaikkan harga sayur Rp 2 ribu–Rp 3 ribu per Kilogram (Kg).
Komoditi kentang, yang sebelumnya Rp 10 ribu, kini dipatok Rp 12 ribu per kg. Kenaikan yang sama juga terjadi pada wortel, yang biasanya hanya Rp 6 ribu, melonjak jadi Rp 9 ribu per kg.
Lonjakan harga juga terjadi pada cabai merah keriting. Meski sepekan terakhir disebut menduduki level kenaikan tertinggi, namun ternyata kemarin, harga cabai naik lagi dari Rp 80 ribu, menjadi Rp 85 ribu per kg. ‘Melangit’ nya harga cabai, membuat minat beli konsumen lemah.
Salah seorang pedagang cabai di PBS, Iyan (35) menyebut biasanya ia mampu menjual lebih dari 20 kg cabai per hari. Sejak harga cabai naik, ia hanya menyetok 10 kg. Selain hemat modal, ia tak ingin menanggung rugi cabai membusuk.
Sementara untuk komoditi peternakan dan perikanan, sepanjang 2014 ini kenaikan harga ikan air tawar, nila dan lele menduduki level tertinggi.
“Kenaikan BBM lebih berpengaruh daripada momen lebaran. Kami tidak bisa jual ikan nila Rp 25 ribu lagi. Mulai hari ini (kemarin,red) sudah Rp 28 ribu per kg. Kalau beli di atas 10 kg baru bisa Rp 26 ribu per kg,” tutur Len (35) pedagang ikan di PBS.
Sementara ikan lele, yang biasanya hanya Rp 20 ribu per kg, naik menjadi Rp 22 ribu sampai Rp 23 ribu per kg.
“Kalau lele, meski naik. Tetap banyak yang beli. Di sini kan banyak yang jual pecel lele. Solusinya, tinggal mereka naikin harga olahan aja,” ungkap Len lagi.
Len mengakui, harga kedua jenis dagangannya ini memasuki level tertinggi sepanjang 2014. Saat lebaran saja, harga nila masih kisaran Rp 25 ribu per kg. Sementara lele saat itu stagnan di posisi Rp 20 ribu per kg.
Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada daging ayam broiler. Akhir Oktober lalu, harga daging ayam broiler sempat menyentuh level terendah Rp 20 ribu per kg. Namun, memasuki awal November hingga pertengahan ini harga daging ayam broiler merangkak naik.
Mulai dari Rp 23 ribu, naik menjadi Rp 26 ribu per kg, dan kemarin Selasa (18/11) sudah pada posisi Rp 27 ribu per kg. Lagi-lagi, pedagang menyebut ini karena ongkos transportasi yang naik.
Sementara itu, makanan merakyat yang disebut favorit masyarakat, tempe sekalipun menunjukkan dampak signifikan. Pedagang menyebut, industri tempe mulai memperkecil ukuran namun harganya tetap. Mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 3 ribu per batang.
Menanggapi hal yang terjadi di pasaran, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Lubuklinggau, Hj Farida Ariyani menyarankan, pelaku usaha jangan memanfaatkan kondisi ini untuk mencari untung. Sementara kepada konsumen, ia meminta masyarakat jangan melakukan aksi borong.
“Silakan pandai-pandai menyikapi masalah ini. Kita sedang dihadapkan pada ekonomi lemah. Memang daya beli masyarakat dipastikan akan melemah untuk beberapa pekan ke depan. Namun, semua akan kembali normal seiring waktu,” jelas Farida.
Kenaikan harga BBM subsidi, ternyata tak membuat gembira pedagang BBM eceran. Suladi (42), pedagang BBM di Kecamatan Pedang, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas menyebut tak begitu untung dengan kebijakan yang dibuat Jokowi itu.
“Kami dak lagi berani beli banyak. Jual jugo cuma Rp 9.500 per liter. Untung dikit. Ini jugo nambah sepi. Mending wong antre daripada beli eceran,” ungkap Suladi.
Sebelum BBM naik, minimal Suladi mampu menjual premium lebih dari 10 liter per hari.
“Laku nian waktu pagi, pas wong nak ngantor atau berangkat sekolah. Hari ini sepi nian. Sampai siang cak ini cuma laku 1 liter,” jelasnya.
Di tempat lain, Memet (32) penjual BBM eceran di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Taba Jemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, mengatakan kenaikan harga BBM bersubsidi berimbas pada dagangannya. Sebelumnya ia jual premium Rp 7.000, kini Rp 9.000 perliter.
Pedagang manisan di Jalan Garuda, Kelurahan Pasar Pemiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, Tedi (25) mengatakan harga sembako belum naik.
“Untuk harga sembako masih harga lama karena masih stok lama yang di jual ke masyarakat, mungkin akan terjadi kenaikan setelah stok tersebut habis karena terpengaruh dengan ongkos transportasi. Harganya masih seperti biasa," kata Tedi.
Salah seorang warga Kelurahan Majapahit, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Supardi (45) menyatakan pasrah atas keputusan pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi. Sebab menurutnya berontak juga percuma.
"Kita hanya bisa pasrah, percuma kita berontok toh gak ada yang mau dengarkan aspirasi kita, dan berapun harga yang dinaikan juga pasti dibeli," kata Tukang ojek ini.
Hal berbeda dinyatakan Deri (25) salah seorang karyawan swasta ini mengaku mendukung program pemerintah, asalkan memang benar-benar bertujuan menyejahterakan masyarakat. Dirinya takut apabila harga jual BBM di Indonesia murah maka akan dijual oknum tidak bertanggung jawab keluar negeri.
"Ya kalo naik demi kepentingan rakyat saya pribadi mendukung program ini, apalagi jika harga jual BBM kita murah akan membuat mafia minyak menyeludupkan minyak kita keluar negeri,” menurut bujangan ini.
Pengusaha travel akan menaikan harga tiket. Kasir CV Ratu Intan Permata Cabang Kota Lubuklinggau, Ririn mengatakan tarif travel akan dinaikan hari ini (Rabu, 19/11).
"Biaya operasional naik disebabkan naiknya harga BBM, maka kami terpaksa menaikan harga,” katanya.
Namun ia mengaku belum tahu berapa tarif baru.
“Saya belum tahu karena belum ditetapkan oleh bos,” akunya.
Travel tempatnya bekerja melayani rute Lubuklinggau-Palembang dan Lubuklinggau-Jambi. Harga tiket sebelumnya jurusan Lubuklinggau-Palembang maupun Lubuklinggau-Jambi Rp 135 ribu per penumpang.
"Saya rasa tidak hanya kami yang menaikkan tarif namun pengusaha yang lain juga pasti menaikan," ucapnya. (08/13/05/06)
Label:
utama


0 komentar:
Tulis komentar anda
Tell us what you're thinking... !