TUGUMULYO – Siapa sangka makanan/nasi yang dijual dengan dikemas atau dibungkus justru tidak diminati konsumen. Meskipun, beberapa pedagang menilai nasi kemasan ini dinilai praktis, dan memudahkan penjual maupun pembeli, namun nyatanya tidak semua pedagang berhasil dengan sistem jual makanan dengan dikemas langsung.
Jasri Rayuansyah misalnya, salah seorang pengusaha gudeg di Jalan Jenderal Sudirman, RT 1, RW 1, Kelurahan B Srikaton, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas mengaku idenya menjual nasi dengan sistem bungkus tidak mendapat respon baik dari konsumen.
“Karena berdasarkan pengamatan saya, karakter atau selera masyarakat di sini berbeda dengan selera masyarakat di Kota lain, Yogyakarta misalnya, sebagian kalangan sangat menyukai makanan nasi yang sudah dikemas. Karena selain harga ekonomis, mereka juga tidak ingin menunggu dan mengantre si penjual menyajikan makanan yang mereka inginkan,” kata Jasri Rayuansyah kepada Linggau Pos, Senin, (3/6).
Wajar jika kebanyakan masyarakat di Lubuklinggau maupun di Musi Rawas tidak suka dengan makanan yang sudah dikemas. Pasalnya, pria yang akrab dengan sapaan Akin ini menilai selain karakter masyarakat di sini cenderung menyukai makanan yang masih panas atau yang baru dimasak, mereka juga lebih waspada dengan higienitas(kebersihan) makanan yang mereka beli.
“Alhasil ide tersebut urung saya kembangkan. Karena memang masyarakat di sini cukup cerdas dan sangat berhati-hati dalam memilah makanan, sehingga makanan kemasan yang dibungkus semenarik mungkin pun, tetap kurang diminati,” terangnya.
Akin mengaku, Ide tersebut ia dapat dari warung-warung kecil sederhana seperti di Yogyakarta, yang biasa disebut dengan warung angkringan. Ia ingin menerapkan konsep yang sama dengan warung angkringan, dengan mengusung menu dan sajian khas Yogyakarta.
“Dengan harga makanan serba murah, seperti nasi bungkus porsi kecil yang juga disebut dengan nasi kucing yang harganya hanya Rp 2.000 sampai Rp 3.000 saja, kemudian lauk pauk lainnya yang juga murah meriah, saya pikir dapat menarik minat masyarakat yang ingin jajan atau mencicipi makanan yang belum dijual di tempat lain,” ujarnya.
Sayang, semua belum sejalan dengan harapan. Ia mengira, kemungkinan karena salah bidik pasar. “Kamungkinan lainnya, bisa jadi karena segmen pasar kita tidak tepat, karena pembeli di sini rata-rata masyarakat umum, bukan pelajar atau mahasiswa yang menginginkan makanan yang murah,” ucapnya.
Untuk itu, imbuhnya, kini ia tetap mengusung makanan ala angkringan Yogyakarta, namun sajian nasi tidak menggunakan kemasan. Melainkan seperti sajian warung makan pada umumnya, menggunakan piring. (13)


hehhe.... Anda mau usaha Angkringan Nasi Kucing nya laris manis ???? kami http://www.AngkringanNasiKucing78.com sudah siapkan 22 cara promosi dan pemasaran, supaya usaha angkringan nasi kucingnya laris manis...
BalasHapus