LUBUKLINGGAU – Berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi Indonesia, 1,56 persen penduduknya menjadi wirausaha. Sementara idealnya Indonesia membutuhkan 2 persen saja. Namun, hingga 2013 ini belum juga tercapai. Bahkan tertinggal jauh dengan Singapura yang sudah 7 persen penduduknya wirausahawan, pun dengan Malaysia yang justru sudah mengantongi 3 persen warga negaranya mandiri berwirausaha.
Demikian dikemukakan Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama, Prof Dede Rosyada, kepada Linggau Pos, Sabtu (1/6).
Oleh karena itu, lanjutnya, bukan hanya perguruan tinggi yang mengembangkan disiplin ilmu ekonomi yang bertanggung jawab untuk membekali mahasiswanya ilmu kewirausahaan. Namun, setiap kampus termasuk Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIS), harus memberikan life skill edupreneurship.
“Ini salah satu langkah yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi. Agar output yang dihasilkan, yakni para sarjana tidak menjadi pengangguran, dan menambah deretan panjang daftar pencari kerja. Namun, harus ada inisiatif membuka lapangan kerja,” tambahnya.
Kenapa saya menjelaskan ini? Tanyanya. Karena data statistik menunjukkan dari 4,7 juta jiwa di Indonesia yang sudah sarjana ada 896 ribu menganggur.
Oleh karena itu, setiap sarjana, lanjutnya, harus memiliki karakteristik pemikiran yang berbeda. Diantaranya, terbuka dapat menjalin komunikasi dan relationship dengan siapapun. Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang besar. Selain itu, independen dan percaya diri. Yang didukung dengan sikap berani mengambil risiko.
Sebenarnya, dari proses pembuatan skripsi, calon sarjana sudah dibekali hal ini. Skripsi bukan dari hasil pengungkapan teori atau hasil penelitian yang kita berikan apresiasi. Namun, prosesnya. Ya, proses pembuatan skripsi itu melibatkan pemahaman empirik, sistematik, dan rasional seseorang dalam mengkaji masalah dan mencari solusi. Jika dikuasai dengan benar tiga aspek ini, maka bisa menjadi bekal yang nyata untuk seseorang menjadi seorang entrepreneur.(07)
Demikian dikemukakan Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama, Prof Dede Rosyada, kepada Linggau Pos, Sabtu (1/6).
Oleh karena itu, lanjutnya, bukan hanya perguruan tinggi yang mengembangkan disiplin ilmu ekonomi yang bertanggung jawab untuk membekali mahasiswanya ilmu kewirausahaan. Namun, setiap kampus termasuk Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIS), harus memberikan life skill edupreneurship.
“Ini salah satu langkah yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi. Agar output yang dihasilkan, yakni para sarjana tidak menjadi pengangguran, dan menambah deretan panjang daftar pencari kerja. Namun, harus ada inisiatif membuka lapangan kerja,” tambahnya.
Kenapa saya menjelaskan ini? Tanyanya. Karena data statistik menunjukkan dari 4,7 juta jiwa di Indonesia yang sudah sarjana ada 896 ribu menganggur.
Oleh karena itu, setiap sarjana, lanjutnya, harus memiliki karakteristik pemikiran yang berbeda. Diantaranya, terbuka dapat menjalin komunikasi dan relationship dengan siapapun. Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang besar. Selain itu, independen dan percaya diri. Yang didukung dengan sikap berani mengambil risiko.
Sebenarnya, dari proses pembuatan skripsi, calon sarjana sudah dibekali hal ini. Skripsi bukan dari hasil pengungkapan teori atau hasil penelitian yang kita berikan apresiasi. Namun, prosesnya. Ya, proses pembuatan skripsi itu melibatkan pemahaman empirik, sistematik, dan rasional seseorang dalam mengkaji masalah dan mencari solusi. Jika dikuasai dengan benar tiga aspek ini, maka bisa menjadi bekal yang nyata untuk seseorang menjadi seorang entrepreneur.(07)


0 komentar:
Tulis komentar anda
Tell us what you're thinking... !