TABA PINGIN - Bisnis konveksi adalah jenis bisnis cukup menjanjikan, karena tidak akan pernah padam dan tiap tahunnya selalu dibutuhkan oleh manusia sebagai pemenuhan kebutuhan sandangnya. Sayang, hal tersebut belum dirasakan sejumlah pengusaha konveksi kaos dan sablon di Lubuklinggau.
Seperti yang diakui salah seorang pelaku usaha konveksi kaos di Jalan Delima Kelurahan Taba Pingin, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Jamil. Ia mengungkapkan, kendati bisnis konveksi memiliki prospek yang bagus, namun enam tahun usahanya berdiri, belum ada tanda-tanda kemajuan yang signifikan.
“Masih sama dengan tiga atau empat tahun silam, kita kesulitan mendapat pelanggan. Padahal, jika melihat segmen pasar kita yang luas, dari sekolah TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, dan berbagai instansi pemerintahan, peluang usaha ini sangat terbuka. Akan tetapi dari sekian masyarakat yang membutuhkan jasa pembuatan seragam kaos, hanya dua persennya yang menempah di penjahit lokal. Selebihnya menempah ke Kota Bandung.” kata Jamil kepada Linggau Pos, Jumat (31/5).
Menurutnya, sulitnya mendapat pelanggan bukan karena banyak persaingan dengan konveksi kaos dan sablon lainnya di Kota Lubuklinggau. Melainkan, aku Jamil ia harus bersaing dengan konveksi yang sudah go nasional, salah satunya konveksi yang berada di Kota Bandung.
Jamil mengungkapkan, selama ini masyarakat masih menganggap kualitas yang dihasilkan oleh penjahit lokal masih buruk. Padahal, jika dibandingkan, Jamil menilai hasil kualitas penjahit di Lubuklinggau dengan kualitas penjahit Bandung, tidak jauh berbeda. Bahkan terkadang, hasil jahitan dari Bandung tidak lebih bagus dengan kualitas jahitannya.
“Kualitas sama saja. Hanya saja menyoal kecepatan waktu, kita memang membutuhkan waktu lebih lama. Karena selain bahan baku harus memesan terlebih dahulu dari Bandung, SDM yang kita miliki juga masih terbatas,” terang Jamil.
Jamil mengaku, untuk bahan baku dirinya maupun konveksi lainnya, jarang yang memiliki persediaan banyak. Pasalnya, untuk menyediakan bahan baku membutuhkan modal yang cukup. Sementara permodalan untuk usahanya masih menggunakan modal pribadi. Begitu juga untuk membayar upah kerja. Persoalan lain untuk memberikan pelayanan yang maksimal, ada pada peralatan dan keahlian karyawan.
“Sehingga berapa pun jumlah tempahan dari pelanggan, kami selesaikan bertiga, istri saya, Endang dan dibantu satu ponakan saya,” jelas Jamil.
Dengan perkembangan usaha yang agaknya berjalan di tempat, Jamil berharap pemerintah memberikan solusi supaya usaha konveksinya dan sejumlah usaha konveksi lainnya dapat berkembang pesat.
“Mudah sebenarnya untuk mengembangkan usaha ini. Tapi kita tidak bisa berkembang sendiri, kita butuh dukungan dari pemerintah. Cukup dengan menyarankan sekolah-sekolah atau instansi agar tetap menempah seragam di konveksi lokal. Dan yang paling penting, kita juga butuh bantuan promosi pemerintah untuk meyakinkan ke masyarakat bahwa kualitas hasil karya kita tidak kalah dengan hasil kualitas konveksi di Bandung,” Tegas Jamil. (13)
Seperti yang diakui salah seorang pelaku usaha konveksi kaos di Jalan Delima Kelurahan Taba Pingin, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Jamil. Ia mengungkapkan, kendati bisnis konveksi memiliki prospek yang bagus, namun enam tahun usahanya berdiri, belum ada tanda-tanda kemajuan yang signifikan.
“Masih sama dengan tiga atau empat tahun silam, kita kesulitan mendapat pelanggan. Padahal, jika melihat segmen pasar kita yang luas, dari sekolah TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, dan berbagai instansi pemerintahan, peluang usaha ini sangat terbuka. Akan tetapi dari sekian masyarakat yang membutuhkan jasa pembuatan seragam kaos, hanya dua persennya yang menempah di penjahit lokal. Selebihnya menempah ke Kota Bandung.” kata Jamil kepada Linggau Pos, Jumat (31/5).
Menurutnya, sulitnya mendapat pelanggan bukan karena banyak persaingan dengan konveksi kaos dan sablon lainnya di Kota Lubuklinggau. Melainkan, aku Jamil ia harus bersaing dengan konveksi yang sudah go nasional, salah satunya konveksi yang berada di Kota Bandung.
Jamil mengungkapkan, selama ini masyarakat masih menganggap kualitas yang dihasilkan oleh penjahit lokal masih buruk. Padahal, jika dibandingkan, Jamil menilai hasil kualitas penjahit di Lubuklinggau dengan kualitas penjahit Bandung, tidak jauh berbeda. Bahkan terkadang, hasil jahitan dari Bandung tidak lebih bagus dengan kualitas jahitannya.
“Kualitas sama saja. Hanya saja menyoal kecepatan waktu, kita memang membutuhkan waktu lebih lama. Karena selain bahan baku harus memesan terlebih dahulu dari Bandung, SDM yang kita miliki juga masih terbatas,” terang Jamil.
Jamil mengaku, untuk bahan baku dirinya maupun konveksi lainnya, jarang yang memiliki persediaan banyak. Pasalnya, untuk menyediakan bahan baku membutuhkan modal yang cukup. Sementara permodalan untuk usahanya masih menggunakan modal pribadi. Begitu juga untuk membayar upah kerja. Persoalan lain untuk memberikan pelayanan yang maksimal, ada pada peralatan dan keahlian karyawan.
“Sehingga berapa pun jumlah tempahan dari pelanggan, kami selesaikan bertiga, istri saya, Endang dan dibantu satu ponakan saya,” jelas Jamil.
Dengan perkembangan usaha yang agaknya berjalan di tempat, Jamil berharap pemerintah memberikan solusi supaya usaha konveksinya dan sejumlah usaha konveksi lainnya dapat berkembang pesat.
“Mudah sebenarnya untuk mengembangkan usaha ini. Tapi kita tidak bisa berkembang sendiri, kita butuh dukungan dari pemerintah. Cukup dengan menyarankan sekolah-sekolah atau instansi agar tetap menempah seragam di konveksi lokal. Dan yang paling penting, kita juga butuh bantuan promosi pemerintah untuk meyakinkan ke masyarakat bahwa kualitas hasil karya kita tidak kalah dengan hasil kualitas konveksi di Bandung,” Tegas Jamil. (13)


0 komentar:
Tulis komentar anda
Tell us what you're thinking... !