*Minta Dinkes Tangani Soal Kesehatan
KAYU ARA - Kabut asap makin meresahkan masyarakat. Tapi hingga kemarin (13/10) belum ada penanganan serius pemerintah hingga warga meminta kepada pemerintah agar dapat memberikan antisipasi mulai dari pembagian masker, sampai pembagian vitamin.
Mengapa lamban? Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Lubuklinggau, Albey Roni saat dikonfirmasi Senin (13/10) mengakui jika kabut asap yang ada saat ini sudah berpotensi mengganggu kesehatan.
Namun dirinya mengaku tidak bisa berbuat banyak karena sumber kabut asap berasal dari luar Kota Lubuklinggau, seperti daerah OKI, Kabupaten Muratara, dan Jambi.
"Kabut yang ada saat ini sudah sangat berpotensi pada kesehatan, namun kembali lagi kita tidak bisa berbuat banyak mengingat kabut asap berasal dari kiriman luar kota," kata Albey.
Ia menjabarkan untuk penanganan bagi kesehatan sepenuhnya tugas dari Dinas Kesehatan (Dinkes). Serta menyosialisasikan bahaya dari kabut asap itu sendiri.
“Kami dari KLH Kota Lubuklinggau KLH hanya bisa menghimbau kepada masyarakat ingin membuka lahan agar membuat lorong di sepanjang lahan agar tidak merembet ke lahan warga lainnya. Membuat lorong selebar 1 meter di sekeliling lahan akan dibakar agar tidak menjalar ke lahan orang lain yang dapat berdampak pada kebakaran hutan," ungkap Albey.
*Bagi-bagikan Masker
Sementara itu, pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggau hari ini bagi-bagi masker sedikitnya 22 ribu. Disertai pembagian brosur yang berisi imbauan kepada masyarakat mengenai kabut asap yang belakangan sangat mengganggu aktivitas warga.
Kadinkes Lubuklinggau, RMH Nawawi Akip menambahkan bahwa dari 22 ribu masker yang akan dibagikan 20 ribu dari anggaran Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau melalui Dinkes.
“Sedangkan yang 2 ribu bantuan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Lubuklinggau,” katanya.
Untuk mengadakan 20 ribu masker tersebut pihaknya pesan di Bengkulu. Pasalnya di Kota Lubuklinggau stoknya tidak cukup.
“Di Kota Lubuklinggau tidak cukup jadi kita beli di Bengkulu,” ungkapnya.
Menurutnya, masker itu sudah tiba di Kota Lubuklinggau tadi malam (13/10).
Ditambahkannya, 22 ribu masker akan dibagikan di lima titik lokasi yakni di depan Masjid Agung As Salam, Simpang RCA, depan kantor Dinkes Kota Lubuklinggau, Simpang Pasar Pemiri dan Simpang Periuk.
“Pembagian dimulai pada pukul 11.00 WIB karena ketebalan kabut asap semakin pekat dan aktivitas di jalan mulai ramai,” tambahnya.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kota Lubuklinggau, Yeti Sumiati menjelaskan pembagian masker sesuai surat edaran dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada 10 September lalu perihal kewaspadaan dini dampak kabut asap terhadap kesehatan. Maka hari ini, Dinkes memberikan masker kepada masyarakat.
"Dinkes Lubuklinggau tidak bisa melakukan pengecekan ataupun sampel di lapangan untuk mengukur intensitas bahaya udara saat ini, karena kami hanya memiliki alat pencahayaan dalam ruangan saja. Namun kami bisa melakukan pencegahan penyakit seperti iritasi mata, iritasi hidung, dan tenggorokan, reaksi alergi seperti peradangan disertai infeksi, memperburuk penyakit asma, paru-paru kronis dengan mengimbau dan memonitor supaya pihak puskesmas, pemerintah kecamatan, dan Dinkes memberikan informasi dan melayani masyarakat dengan cepat dan tanggap ketika penyakit tersebut sudah terjadi," kata Yeti pada Linggau Pos, kemarin.
Ia minta agar masyarakat menghindari atau mengurangi aktivitas di luar rumah dan gedung, terutama bagi penderita penyakit jantung dan pernafasan. Namun jika dituntut bekerja di luar ruangan maka masyarakat harus menggunakan masker dan kaca mata.
“Serta upayakan semaksimal mungkin agar polusi di luar tidak masuk ke dalam rumah ataupun sekolah,” imbaunya.
Yeti menjelaskan dari data dihimpun dari Puskesmas sejak Juli hingga September penderita ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan) tidak mengalami kenaikan signifikan.
"Kami akan membagi-bagikan masker dibantu oleh Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS) Kota Lubuklinggau dan Organisasi KAMMI,” jelasnya.
*Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
Bagaimana di Kabupaten Musi Rawas? Kepala Seksi P2, Iwan Joko Sulistyo mengungkapkan adanya pencemaran udara kabut asap yang mencemari wilayah Kabupaten Musi Rawas berdampak pada penyakit ISPA.
Iwan sapaan akrabnya menjelaskan sebelum terjadinya gangguan ISPA masyarakat diwajibkan menjaga kesehatan salah satunya dengan perbanyak minum air putih, perbanyak makan buah-buahan, memakai masker jika hendak keluar rumah, dan kurang kegiatan di luar rumah jika tidak terlalu penting.
“Sekarang belum ada laporan dari setiap Puskesmas di Kabupaten Musi Rawas ke kantor Dinkes mengenai penyakit atau gangguan disebabkan kabut asap.
Namun walaupun belum ada laporan diharapkan kepada masyarakat Kabupaten Musi Rawas dan sekitarnya tetap menjaga kesehatan dan kurangi aktivitas di luar rumah tidak terlalu penting,” ulangnya.(13/08/02/09)


0 komentar:
Tulis komentar anda
Tell us what you're thinking... !