MUSI RAWAS - Kabut asap di pagi hari di Kabupaten Musi Rawas (Mura) disebabkan hampir meratanya musim panen padi di wilayah Mura. Para petani kerap membakar jerami sehingga membuat peredaran kabut asap kian bertambah.
Kabut asap yang tebal bisa dirasakan saat menjelang Magrib atau pagi sekitar pukul 05.30 WIB di kawasan Jalan Raya Tugumulyo. Sehingga jarak pandang para pengendara sedikit terganggu, dan hanya mampu melihat hingga beberapa meter saja.
Murdani, pengunjung pasar B Srikaton mengaku hampir setiap pagi kabut asap itu ada, tetapi akhir-akhir ini semakin meningkat sehingga ia harus ekstra hati-hati saat mengendarai kendaraan roda dua miliknya.
"Sekarang ini tebal nian kabutnya jadi ambil selamat kita pelan-pelan saja," kata Murdani ditemui di sekitar pasar B Srikaton.
Ia juga menerka peningkatan kabut asap ini berkaitan dengan musim panen padi yang hampir merata di wilayah Kabupaten Mura. Sehingga jerami yang kerap dibakar oleh para petani tak pelak, meningkatkan kabut asap di pagi dan sore hari.
"Mungkin banyak petani yang panen padi, mereka kerap membakar jerami jadi kabut asap semakin tebal, nanti juga normal lagi,"ucapnya.
Menurut penuturan petani di Tugumulyo, Sadat Hurip, membenarkan kebiasaan petani membakar jerami agar tidak menumpuk.
"Kalau tidak dibakar, mau dikemanakan jerami ini. Sebab ini sudah biasa dilakukan turun-temurun agar jerami tidak menumpuk," kata Urip.
Ia juga mengatakan, kalaupun jerami dibakar tetap selalu ditunggu agar tidak meluas apinya. "Karena ditiup angin sehingga asapnya kemana-mana menyebar. Ini sudah biasa dilakukan petani, jadinya biasa saja," ungkap Urip.
Terpisah Kepala Bidang (Kabid) Surveilans Epidemilasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Mura, Nasrul Bayumi menjelaskan pihaknya telah melakukan proses sosialisasi ke setiap Puskesmas terkait dengan meningkatnya polusi udara khususnya asap terhitung sekarang hingga September. Selain itu pihaknya sudah menyediakan langkah antisipasi dengan menyetok obat-obatan khusus penanganan penyakit Ispa.
Sebab, Nasrul mengatakan, dampak kabut asap maupun asap yang ditimbulkan dari pembakaran jerami petani yakni mengganggu kesehatan pernafasan atau infeksi saluran pernafasan (Ispa). "Obat sudah dipersiapkan dan stoknya cukup. Untuk masker kita belum punya dan bila dibutuhkan kita akan mengajukan kepada pihak provinsi sehingga bisa dibagikan kepada masyarakat," jelasnya.(04)
Kabut asap yang tebal bisa dirasakan saat menjelang Magrib atau pagi sekitar pukul 05.30 WIB di kawasan Jalan Raya Tugumulyo. Sehingga jarak pandang para pengendara sedikit terganggu, dan hanya mampu melihat hingga beberapa meter saja.
Murdani, pengunjung pasar B Srikaton mengaku hampir setiap pagi kabut asap itu ada, tetapi akhir-akhir ini semakin meningkat sehingga ia harus ekstra hati-hati saat mengendarai kendaraan roda dua miliknya.
"Sekarang ini tebal nian kabutnya jadi ambil selamat kita pelan-pelan saja," kata Murdani ditemui di sekitar pasar B Srikaton.
Ia juga menerka peningkatan kabut asap ini berkaitan dengan musim panen padi yang hampir merata di wilayah Kabupaten Mura. Sehingga jerami yang kerap dibakar oleh para petani tak pelak, meningkatkan kabut asap di pagi dan sore hari.
"Mungkin banyak petani yang panen padi, mereka kerap membakar jerami jadi kabut asap semakin tebal, nanti juga normal lagi,"ucapnya.
Menurut penuturan petani di Tugumulyo, Sadat Hurip, membenarkan kebiasaan petani membakar jerami agar tidak menumpuk.
"Kalau tidak dibakar, mau dikemanakan jerami ini. Sebab ini sudah biasa dilakukan turun-temurun agar jerami tidak menumpuk," kata Urip.
Ia juga mengatakan, kalaupun jerami dibakar tetap selalu ditunggu agar tidak meluas apinya. "Karena ditiup angin sehingga asapnya kemana-mana menyebar. Ini sudah biasa dilakukan petani, jadinya biasa saja," ungkap Urip.
Terpisah Kepala Bidang (Kabid) Surveilans Epidemilasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Mura, Nasrul Bayumi menjelaskan pihaknya telah melakukan proses sosialisasi ke setiap Puskesmas terkait dengan meningkatnya polusi udara khususnya asap terhitung sekarang hingga September. Selain itu pihaknya sudah menyediakan langkah antisipasi dengan menyetok obat-obatan khusus penanganan penyakit Ispa.
Sebab, Nasrul mengatakan, dampak kabut asap maupun asap yang ditimbulkan dari pembakaran jerami petani yakni mengganggu kesehatan pernafasan atau infeksi saluran pernafasan (Ispa). "Obat sudah dipersiapkan dan stoknya cukup. Untuk masker kita belum punya dan bila dibutuhkan kita akan mengajukan kepada pihak provinsi sehingga bisa dibagikan kepada masyarakat," jelasnya.(04)


0 komentar:
Tulis komentar anda
Tell us what you're thinking... !