*Dalam Relokasi Pedagang Pasar Inpres Blok B
ULAK SURUNG - Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau untuk membangun dan mengembangkan Pasar Instruksi Presiden (Inpres) Blok B yang berada di Jalan Jendral Sudirman Kelurahan Pasar Pemiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II dalam waktu dekat akan diwujudkan. Langkah awal yang diambil Pemkot dengan merelokasi (pemindahan tempat) lebih kurang 700 pedagang yang ada di Pasar Inpres Blok B.
Dalam relokasi nantinya pedagang minta Pemkot Lubuklinggau melalui Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Pengelolaan Pasar (DKUMKMPP) tetap mendampingi. Seperti disampaikan Yunus salah seorang pedagang gula merah, Senin (13/1).
"Kami minta pendampingan terus dilakukan pemerintah, jangan hanya dilepas. Setelah pemberitahuan atau sosialisasi ini lalu lepas tangan," kata Yunus dalam kegiatan sosialisasi yang diadakan DKUMKMPP Kota Lubuklinggau, di Pasar Bukit Sulap (PBS), Senin (13/1).
Adanya relokasi ini, sebagian pedagang juga mengkhawatirkan adanya jual beli kios dari oknum.
"Pemerintah telah menjamin bahwa untuk tempat kami (pedagang,red) tidak perlu khawatir semuanya tersedia, baik itu di Pasar Simpang Periuk maupun PBS. Tapi dikhawatirkan pada saat pelaksanaan relokasi ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan jual beli kios. Oleh sebab itu DKUMKMPP harus benar-benar mendata pedagang yang akan direlokasi," pinta Yunus.
Sementara itu, Dinastri salah seorang pedagang kelapa parut meminta Pemkot Lubuklinggau menyediakan kios/lapak pengganti lebih besar minimal sama dengan yang dimiliki pedagang saat ini. Wanita paruh baya ini juga minta kejelasan Pemkot Lubuklinggau, kapan pedagang akan di relokasi.
"Mesin parut kelapa yang kami miliki cukup besar, kalau kami juga akan direlokasi minimal disediakan lapak yang sama besar dengan yang kami miliki saat ini. Jika kecil lapaknya kecil, tentu saja memengaruhi dagangan kami," ucapnya.
Terpisah Naswi Hamzah, salah seorang pedagang kelontongan di Pasar Inpres Blok B meminta kejelasan batas antara Pasar Inpres Blok A dan B. Jika pengerjaan akan dilakukan, diharapkan rekanan untuk sosialisasi ke pedagang terlebih dahulu. "Kalau ada penutupan lokasi dengan seng, kami harapkan pedagang diberi tahu. Jangan seperti tahun-tahun sebelumnya sehingga kami pedagang kalang kabut," pintanya.
Pertanyaan dan permintaan pedagang ini langsung ditanggapi oleh Kepala DKUMKMPP Kota Lubuklingggau Abu Ja'at. Mantan Kepala Administrasi SDA Setda Kota Lubuklinggau ini, menegaskan semua pedagang di kompleks Pasar Inpres Blok B pindah.
"Baik itu pedagang daging ayam, sapi, sayuran, kelontongan, ikan dan lainnya. Tempat penggantinya sudah kami sediakan yaitu di PBS, jika tidak cukup di PBS maka dialihkan ke Pasar Simpang Periuk. Tentunya bagi pedagang yang rumahnya arah Lubuklinggau Selatan lebih dekat di Pasar Simpang Periuk. Untuk Pasar Simpang Periuk memang saat ini masih dalam pengerjaan yaitu finishing lagi, kalau sarana penunjang lainnya seperti listrik dan air semuanya sudah siap," kata Abu Ja'at.
Diakui Abu Ja'at, hal ini bukanlah mudah baik bagi Pemkot Lubuklinggau maupun pedagang. Namun program ini tentunya baik, dan dibutuhkan dukungan dari semua pihak. Dengan adanya pengembangan Pasar Inpres, sarana dan prasarana dibangun dengan tujuan jangan sampai ada lagi pedagang yang berjualan di badan jalan.
Selain itu Abu Ja'at menjamin dalam relokasi ini tidak akan ada jual beli kios.
"Dipastikan tidak akan ada jual beli kios. Sebelumnya sebagian pedagang ini sudah memiliki lapak atau kios di PBS, dengan adanya relokasi ini segera tempati lapak tersebut," ungkapnya.
Di PBS tersedia lapak 500, sedangkan kiosnya cukup terbatas. Bahkan saat ini DKUMKMPP Kota Lubuklinggau juga menyiapkan lapak dan kios baru di Pasar Satelit. Abu Ja'at juga menjamin untuk merelokasi pedagang tetap ada pendampingan dari DKUMKMPP.
Abu Ja'at menghimbau pedagang di Blok A untuk tetap bertahan. Tahap awal pembangunan dan pengembangan ini untuk Pasar Inpres Blok B terlebih dahulu.
"Pengembangan ini dilakukan oleh PT Linggau Bisa, dengan luas lahan lebih kurang 1,8 Hektar are (Ha). Dihimbau pedagang di Pasar Inpres Blok A untuk manta-mantap saja, sebelum ada intruksi atau petunjuk lanjutan tetap berjualan di Pasar Inpres Blok A," himbau Abu Ja'at.
*SPKL Akan Bagikan Selebaran
Serikat Pedagang Kaki Lima (SPKL) Kota Lubuklinggau mendukung program Pemkot Lubuklinggau untuk merelokasi pedagang. Dan ini sudah sangat jelas pembangunan ini untuk kemajuan Kota Lubuklinggau.
Seperti disampaikan oleh Ketua SPKL Kota Lubuklinggau Junaidi. "Dalam sosialisasi ini semua pedagang Blok B mayoritas setuju, dan dihimbau pedagang untuk tidak terpancing dengan informasi yang sifatnya tidak jelas. Bahkan pemerintah sudah menjamin semua pedagang akan mendapatkan lapak, jadi tidak ada alasan pedagang tidak mendukung program ini," ungkap Junaidi.
Ditambahkan Junaidi, dalam waktu dekat SPKL akan melakukan sosialisasi dan membagikan selebaran terkait pemindahan ini.
"Tujuannya jangan sampai ada yang terprovokasi, SPKL anggotanya sedikitnya ada 200 pedagang buah dan 380 pedagang lainnya," ucapnya.(03)
ULAK SURUNG - Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau untuk membangun dan mengembangkan Pasar Instruksi Presiden (Inpres) Blok B yang berada di Jalan Jendral Sudirman Kelurahan Pasar Pemiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II dalam waktu dekat akan diwujudkan. Langkah awal yang diambil Pemkot dengan merelokasi (pemindahan tempat) lebih kurang 700 pedagang yang ada di Pasar Inpres Blok B.
Dalam relokasi nantinya pedagang minta Pemkot Lubuklinggau melalui Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Pengelolaan Pasar (DKUMKMPP) tetap mendampingi. Seperti disampaikan Yunus salah seorang pedagang gula merah, Senin (13/1).
"Kami minta pendampingan terus dilakukan pemerintah, jangan hanya dilepas. Setelah pemberitahuan atau sosialisasi ini lalu lepas tangan," kata Yunus dalam kegiatan sosialisasi yang diadakan DKUMKMPP Kota Lubuklinggau, di Pasar Bukit Sulap (PBS), Senin (13/1).
Adanya relokasi ini, sebagian pedagang juga mengkhawatirkan adanya jual beli kios dari oknum.
"Pemerintah telah menjamin bahwa untuk tempat kami (pedagang,red) tidak perlu khawatir semuanya tersedia, baik itu di Pasar Simpang Periuk maupun PBS. Tapi dikhawatirkan pada saat pelaksanaan relokasi ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan jual beli kios. Oleh sebab itu DKUMKMPP harus benar-benar mendata pedagang yang akan direlokasi," pinta Yunus.
Sementara itu, Dinastri salah seorang pedagang kelapa parut meminta Pemkot Lubuklinggau menyediakan kios/lapak pengganti lebih besar minimal sama dengan yang dimiliki pedagang saat ini. Wanita paruh baya ini juga minta kejelasan Pemkot Lubuklinggau, kapan pedagang akan di relokasi.
"Mesin parut kelapa yang kami miliki cukup besar, kalau kami juga akan direlokasi minimal disediakan lapak yang sama besar dengan yang kami miliki saat ini. Jika kecil lapaknya kecil, tentu saja memengaruhi dagangan kami," ucapnya.
Terpisah Naswi Hamzah, salah seorang pedagang kelontongan di Pasar Inpres Blok B meminta kejelasan batas antara Pasar Inpres Blok A dan B. Jika pengerjaan akan dilakukan, diharapkan rekanan untuk sosialisasi ke pedagang terlebih dahulu. "Kalau ada penutupan lokasi dengan seng, kami harapkan pedagang diberi tahu. Jangan seperti tahun-tahun sebelumnya sehingga kami pedagang kalang kabut," pintanya.
Pertanyaan dan permintaan pedagang ini langsung ditanggapi oleh Kepala DKUMKMPP Kota Lubuklingggau Abu Ja'at. Mantan Kepala Administrasi SDA Setda Kota Lubuklinggau ini, menegaskan semua pedagang di kompleks Pasar Inpres Blok B pindah.
"Baik itu pedagang daging ayam, sapi, sayuran, kelontongan, ikan dan lainnya. Tempat penggantinya sudah kami sediakan yaitu di PBS, jika tidak cukup di PBS maka dialihkan ke Pasar Simpang Periuk. Tentunya bagi pedagang yang rumahnya arah Lubuklinggau Selatan lebih dekat di Pasar Simpang Periuk. Untuk Pasar Simpang Periuk memang saat ini masih dalam pengerjaan yaitu finishing lagi, kalau sarana penunjang lainnya seperti listrik dan air semuanya sudah siap," kata Abu Ja'at.
Diakui Abu Ja'at, hal ini bukanlah mudah baik bagi Pemkot Lubuklinggau maupun pedagang. Namun program ini tentunya baik, dan dibutuhkan dukungan dari semua pihak. Dengan adanya pengembangan Pasar Inpres, sarana dan prasarana dibangun dengan tujuan jangan sampai ada lagi pedagang yang berjualan di badan jalan.
Selain itu Abu Ja'at menjamin dalam relokasi ini tidak akan ada jual beli kios.
"Dipastikan tidak akan ada jual beli kios. Sebelumnya sebagian pedagang ini sudah memiliki lapak atau kios di PBS, dengan adanya relokasi ini segera tempati lapak tersebut," ungkapnya.
Di PBS tersedia lapak 500, sedangkan kiosnya cukup terbatas. Bahkan saat ini DKUMKMPP Kota Lubuklinggau juga menyiapkan lapak dan kios baru di Pasar Satelit. Abu Ja'at juga menjamin untuk merelokasi pedagang tetap ada pendampingan dari DKUMKMPP.
Abu Ja'at menghimbau pedagang di Blok A untuk tetap bertahan. Tahap awal pembangunan dan pengembangan ini untuk Pasar Inpres Blok B terlebih dahulu.
"Pengembangan ini dilakukan oleh PT Linggau Bisa, dengan luas lahan lebih kurang 1,8 Hektar are (Ha). Dihimbau pedagang di Pasar Inpres Blok A untuk manta-mantap saja, sebelum ada intruksi atau petunjuk lanjutan tetap berjualan di Pasar Inpres Blok A," himbau Abu Ja'at.
*SPKL Akan Bagikan Selebaran
Serikat Pedagang Kaki Lima (SPKL) Kota Lubuklinggau mendukung program Pemkot Lubuklinggau untuk merelokasi pedagang. Dan ini sudah sangat jelas pembangunan ini untuk kemajuan Kota Lubuklinggau.
Seperti disampaikan oleh Ketua SPKL Kota Lubuklinggau Junaidi. "Dalam sosialisasi ini semua pedagang Blok B mayoritas setuju, dan dihimbau pedagang untuk tidak terpancing dengan informasi yang sifatnya tidak jelas. Bahkan pemerintah sudah menjamin semua pedagang akan mendapatkan lapak, jadi tidak ada alasan pedagang tidak mendukung program ini," ungkap Junaidi.
Ditambahkan Junaidi, dalam waktu dekat SPKL akan melakukan sosialisasi dan membagikan selebaran terkait pemindahan ini.
"Tujuannya jangan sampai ada yang terprovokasi, SPKL anggotanya sedikitnya ada 200 pedagang buah dan 380 pedagang lainnya," ucapnya.(03)


0 komentar:
Tulis komentar anda
Tell us what you're thinking... !