![]() |
| MENARI : Tampak siswi SMPLB Musi Rawas tengah melakukan gladiresik Tari Gending Sriwijaya untuk tampil dalam event tingkat Provinsi Sumatera Selatan, beberapa waktu lalu. |
LUBUKLINGGAU - Semua orang tua pasti menginginkan anak yang lahir dalam keadaan sehat, normal, dan tak kurang suatu apapun. Akibatnya, begitu kenyataan berbicara lain, tidak sedikit orang tua yang tak siap mental menerima takdir anaknya menderita cacat. Namun, perlu disadari terkadang potensi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bisa melebihi bakat anak yang normal.
Dwi Tugiantoro, Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kabupaten Musi Rawas menjelaskan, terutama di kalangan orang-orang kaya dan berpangkat, awalnya karena menjaga gengsi lalu anaknya yang memiliki kelainan fisik maupun mental disembunyikan.
“Kadang, orang tua hanya fokus memperhatikan anak yang normal, sementara yang cacat dibiarkan begitu saja karena dianggap tidak akan bisa berkembang. Atau, sebaliknya anak cacat terlalu dilindungi, apa-apa tidak boleh,” beber bapak jebolan Sarjana Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Padang (UNP) itu.
Akibatnya, suatu saat nanti bisa jadi bumerang, sebab bagaimanapun anak itu ingin diterima di lingkungannya.
Dwi menyebut, ada lagi orang tua yang berpendapat bahwa anaknya bisu tuli, sehingga tak usah disekolahkan. Padahal, belum tentu demikian. Jika anak tidak diberi kesempatan belajar, bagaimana kita bisa tahu keadaan sesungguhnya. Orang tua sering mengambil kesimpulan sendiri.
“Namun, alhamdulillah kesadaran orang tua kini sudah bagus. Terbukti, dari tahun ke tahun murid di SLBN Musi Rawas, khususnya kian bertambah,” jelas suami dari Emi yang juga guru SLBN Musi Rawas ini.
Sepanjang 2013 ini saja, lanjut Dwi beberapa siswa-siswi SLBN Musi Rawas baik tingkat SD, SMP maupun SMA meraih prestasi.
Seperti di bidang seni, khususnya lukis dan tari. Siswa SLBN Musi Rawas atas nama Rudi berhasil Juara III tingkat nasional di Medan (Sumatera Utara). Prestasi di bidang yang sama juga diraih siswi SMPLBN Musi Rawas, atas nama Anna Fitriana.
Sementara dibidang olahraga, dalam event Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2013, dari tujuh cabang lomba yang diikuti siswa-siswi SDLB, SMPLB, dan SMALB Musi Rawas keseluruhan memboyong prestasi juara.
“Ini membuktikan mereka potensial. Asal guru dan orang tua bersabar, dan mampu menangkap saat-saat yang tepat mengasah potensi mereka. Jangan sampai membuat anak-anak difabel ini jenuh sarannya.
Tantangan lain, setelah anak disekolahkan sebagian orang tua tidak sabar melalui tahapan demi tahapan. Begitu anak cacat disekolahkan, yang semula tidak bisa berbicara maunya langsung bisa berkomunikasi. Padahal, semua itu tergantung pada alat bicara, pendengaran, dan IQ anak.
Dwi cukup berbangga, tidak sedikit orang tua wali siswa-siswinya bisa memberikan gambaran dan motivasi bagi orang tua yang mungkin merasai kondisi serupa pada putra putri mereka.
“Kita kadang sangat bersyukur menyaksikan orang tua anak didik kami, tiap hari mengantar anak cacat ke sekolah. Memang hasilnya tidak bisa langsung dilihat. Namun, kesabaran mereka nampak saat menyaksikan sedikit demi sedikit potensi sang anak tumbuh melalui keterampilan yang dipelajari di sekolah,” jelasnya.
Namun, tak sedikit pula, ada orang tua yang menyerah. Lantaran tak sesuai antara biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang didapat. Akhirnya putus sekolah. Dalihnya si anak yang malas, padahal orang tua yang tidak telaten.
Namun, beberapa bulan kemudian pasti balik lagi, karena keinginan anak untuk sekolah tidak dapat dibendung.
Ia meyakini, kalau anak cacat setiap hari memperoleh layanan pendidikan, insya Allah potensinya akan tergali. Khususnya, di sisi mana kelebihan yang dimiliki anak.
“Memang tidak semua anak cacat, terutama tunagrahita, secara akademik kemampuannya bisa ditingkatkan. Tapi, ada sisi keunggulan lain, entah di bidang seni, olahraga, maupun keterampilan yang dapat dikembangkan. Minimal mereka akan tahu sopan santun,” tegasnya. (10)
Dwi Tugiantoro, Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kabupaten Musi Rawas menjelaskan, terutama di kalangan orang-orang kaya dan berpangkat, awalnya karena menjaga gengsi lalu anaknya yang memiliki kelainan fisik maupun mental disembunyikan.
“Kadang, orang tua hanya fokus memperhatikan anak yang normal, sementara yang cacat dibiarkan begitu saja karena dianggap tidak akan bisa berkembang. Atau, sebaliknya anak cacat terlalu dilindungi, apa-apa tidak boleh,” beber bapak jebolan Sarjana Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Padang (UNP) itu.
Akibatnya, suatu saat nanti bisa jadi bumerang, sebab bagaimanapun anak itu ingin diterima di lingkungannya.
Dwi menyebut, ada lagi orang tua yang berpendapat bahwa anaknya bisu tuli, sehingga tak usah disekolahkan. Padahal, belum tentu demikian. Jika anak tidak diberi kesempatan belajar, bagaimana kita bisa tahu keadaan sesungguhnya. Orang tua sering mengambil kesimpulan sendiri.
“Namun, alhamdulillah kesadaran orang tua kini sudah bagus. Terbukti, dari tahun ke tahun murid di SLBN Musi Rawas, khususnya kian bertambah,” jelas suami dari Emi yang juga guru SLBN Musi Rawas ini.
Sepanjang 2013 ini saja, lanjut Dwi beberapa siswa-siswi SLBN Musi Rawas baik tingkat SD, SMP maupun SMA meraih prestasi.
Seperti di bidang seni, khususnya lukis dan tari. Siswa SLBN Musi Rawas atas nama Rudi berhasil Juara III tingkat nasional di Medan (Sumatera Utara). Prestasi di bidang yang sama juga diraih siswi SMPLBN Musi Rawas, atas nama Anna Fitriana.
Sementara dibidang olahraga, dalam event Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2013, dari tujuh cabang lomba yang diikuti siswa-siswi SDLB, SMPLB, dan SMALB Musi Rawas keseluruhan memboyong prestasi juara.
“Ini membuktikan mereka potensial. Asal guru dan orang tua bersabar, dan mampu menangkap saat-saat yang tepat mengasah potensi mereka. Jangan sampai membuat anak-anak difabel ini jenuh sarannya.
Tantangan lain, setelah anak disekolahkan sebagian orang tua tidak sabar melalui tahapan demi tahapan. Begitu anak cacat disekolahkan, yang semula tidak bisa berbicara maunya langsung bisa berkomunikasi. Padahal, semua itu tergantung pada alat bicara, pendengaran, dan IQ anak.
Dwi cukup berbangga, tidak sedikit orang tua wali siswa-siswinya bisa memberikan gambaran dan motivasi bagi orang tua yang mungkin merasai kondisi serupa pada putra putri mereka.
“Kita kadang sangat bersyukur menyaksikan orang tua anak didik kami, tiap hari mengantar anak cacat ke sekolah. Memang hasilnya tidak bisa langsung dilihat. Namun, kesabaran mereka nampak saat menyaksikan sedikit demi sedikit potensi sang anak tumbuh melalui keterampilan yang dipelajari di sekolah,” jelasnya.
Namun, tak sedikit pula, ada orang tua yang menyerah. Lantaran tak sesuai antara biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang didapat. Akhirnya putus sekolah. Dalihnya si anak yang malas, padahal orang tua yang tidak telaten.
Namun, beberapa bulan kemudian pasti balik lagi, karena keinginan anak untuk sekolah tidak dapat dibendung.
Ia meyakini, kalau anak cacat setiap hari memperoleh layanan pendidikan, insya Allah potensinya akan tergali. Khususnya, di sisi mana kelebihan yang dimiliki anak.
“Memang tidak semua anak cacat, terutama tunagrahita, secara akademik kemampuannya bisa ditingkatkan. Tapi, ada sisi keunggulan lain, entah di bidang seni, olahraga, maupun keterampilan yang dapat dikembangkan. Minimal mereka akan tahu sopan santun,” tegasnya. (10)



0 komentar:
Tulis komentar anda
Tell us what you're thinking... !