TABA JEMEKEH - Semakin banyaknya furnitur dari berbagai kayu berkualitas sedang, dan plastik dengan desain menarik membuat produk furnitur semakin dijauhi peminatnya. Apalagi saat ini banyak jasa pembiayaan yang memberikan kredit pembelian furnitur, dan hal ini berdampak menurunnya omzet pelaku industri furnitur bambu.
Seperti dialami Ridwan (55) salah seorang warga Kelurahan Taba Jemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, saat ini mengerem produksi dan tergantung pesanan pelanggan.
"Saat ini pesanan furnitur dari bambu semakin sedikit saja, banyak faktor yang memengaruhinya salah satunya semakin banyaknya furnitur dari kayu dan plastik," ungkap Ridwan.
Ditambahkan Ridwan, apalagi harga furnitur tersebut cukup terjangkau.
"Bahkan bisa di kredit, hal ini semakin membuat usaha furnitur bambu semakin tersingkirkan," ucapnya.
Saat ini Ridwan hanya membuat furnitur tergantung pesanan pelanggan saja, ia tidak mau mengambil risiko barang-barang yang telah dibuatnya tidak terjual.
"Biasanya dalam satu bulan ada empat hingga lima jenis furnitur pesanan pelanggan, tapi saat ini tidak lagi. Kadang hanya satu saja itupun minta potongan harga atau diskon. Kadang untung yang kami terima sedikit sekali tidak sesuai, tapi mau bagaimana lagi daripada usaha ini mandek," ungkapnya.
Biasanya Ridwan menerima pesanan berbagai jenis furnitur, dari kursi, meja, tempat tidur bayi, rak sepatu hingga penutupan makanan. Dengan harga produk bervariasi, dari Rp 100 ribu hingga Rp 4 juta. Untuk bahan baku Ridwan mengaku, tidak pernah mengalami kesulitan, pasalnya pemasok bambu cukup banyak.
"Yang menjadi masalah saat ini karena modalnya yang sedikit," ungkapnya.(03)
Seperti dialami Ridwan (55) salah seorang warga Kelurahan Taba Jemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, saat ini mengerem produksi dan tergantung pesanan pelanggan.
"Saat ini pesanan furnitur dari bambu semakin sedikit saja, banyak faktor yang memengaruhinya salah satunya semakin banyaknya furnitur dari kayu dan plastik," ungkap Ridwan.
Ditambahkan Ridwan, apalagi harga furnitur tersebut cukup terjangkau.
"Bahkan bisa di kredit, hal ini semakin membuat usaha furnitur bambu semakin tersingkirkan," ucapnya.
Saat ini Ridwan hanya membuat furnitur tergantung pesanan pelanggan saja, ia tidak mau mengambil risiko barang-barang yang telah dibuatnya tidak terjual.
"Biasanya dalam satu bulan ada empat hingga lima jenis furnitur pesanan pelanggan, tapi saat ini tidak lagi. Kadang hanya satu saja itupun minta potongan harga atau diskon. Kadang untung yang kami terima sedikit sekali tidak sesuai, tapi mau bagaimana lagi daripada usaha ini mandek," ungkapnya.
Biasanya Ridwan menerima pesanan berbagai jenis furnitur, dari kursi, meja, tempat tidur bayi, rak sepatu hingga penutupan makanan. Dengan harga produk bervariasi, dari Rp 100 ribu hingga Rp 4 juta. Untuk bahan baku Ridwan mengaku, tidak pernah mengalami kesulitan, pasalnya pemasok bambu cukup banyak.
"Yang menjadi masalah saat ini karena modalnya yang sedikit," ungkapnya.(03)


0 komentar:
Tulis komentar anda
Tell us what you're thinking... !